728x90 AdSpace

Latest News

Selasa, 03 Januari 2012

MASA KEJAYAAN PENDIDIKAN ISLAM


Mulai berkembangnya kebudayaan Islam ditandai dengan berkembang luasnya lembaga-lembaga pendidikan Islam dan madrasah-madrasah formal dan universitas Islam. Pendidikan tersebut sangat berpengaruh dalam membentuk pola kehidupan, budaya dan menghasilkan pembentukan dan perkembangan dalam berbagai aspek budaya kaum muslimin. Zaman dahulu pendidikan hanya sebagai jawaban atas rintangan dan pola budaya yang berkembang dari bangsa yang baru memeluk agama Islam, namun sekarang merupakan jawaban dari tiap tantangan kemajuan budaya Islam itu sendiri yang berjalan pesat. Ada dua faktor yang mempengaruhi kebudayan Islam, yaitu:
1.    Faktor Interen, yaitu yang dibawa dari ajaran Islam itu sendiri
2.    Faktor Eksteren, yaitu yang dibawa dari luar ajaran Islam.


1.    Berkembangnya Lembaga Pendidikan Islam
Sebelum munculnya sekolah dan universitas yang kemudian dikenal sebagai lembaga pendidikan formal, di dalam dunia Islam telah berkembang lembaga-lembaga pendidikan Islam yang bersifat nonformal antara lain:
a.    Kuttab sebagai lembaga pendidikan dasar
Kuttab atau maktab berasal dari kata dasar kutaba yang berarti menulis atau tempat belajar menulis. Sebelum datangnya Islam kuttab telah ada di negeri Arab, walaupun belum banyak dikenal, diantara penduduk Mekkah yang pertama belajar huruf arab ialah Sufyan Ibnu Umayah Ibnu Abdu Syams dan Abu Qhais Ibnu Abdi Manaf Ibnu Zuhro Ibnu Kilat. Sewaktu agama Islam diturunkan Allah sudah ada diantara sahabat yang pandai menulis dan membaca. Kemudian tulis baca itu mendapat dorongan yang kuat dalam Islam, sehingga berkembang sangat luas. Ayat Al-Quran yang pertama diturunkan memerintahkan untuk membaca dan memberikan gambaran bahwa membaca dan menulis merupakan sarana utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan dalam pandangan Islam.
Di dalam buku karangan Hanun Asrohah: “Sejak abad ke-8 M, kuttab mulai mengajarkan pengetahuan umum disamping ilmu agama. Hal ini terjadi karena adanya perseteruan antara Islam dengan warisan budaya Helenisme sehingga banyak membawa perubahan dalam bidang kurikulum pendidikan Islam. Kuttab dibagi menjadi dua, yaitu pengetahuan non agama dan yang mengajarkan ilmu agama.”[1]
b.   Pendidikan rendah di Istana
Timbulnya pendidikan rendah di Istana untuk anak-anak para pejabat adalah berdasarkan pemikiran bahwa pendidikan itu harus bersifat menyiapkan anak didik agar mampu menyiapkan tugas-tugasnya sampai dia dewasa. dari pemikiran itu Khalifah dan keluarganya serta para pembesar Istana lainnya berusaha menyiapkan agar anak-anaknya sejak kecil sudah diperkenalkan dengan lingkungan dan tugas-tugas yang akan dilakukannya nanti. Pendidikan anak-anak di Istana berbeda dengan pendidikan anak-anak di kuttab pada umumnya. Perbedaannya yaitu di Istana para orang tua murid (para pejabat istana) adalah yang membuat rencana pelajaran tersebut selaras dengan anaknya dan tujuan yang dikehendaki oleh orang tuanya.

c.    Toko-toko kitab
Awalnya masa Daulah Bani Abasiyah dimana ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam sudah berkembang dan diikuti oleh penulisan kitab-kitab dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, maka berdirilah toko-toko kitab. Pada awalnya memang hanya menjual buku-buku, tapi berikutnya menjadi sarana untuk berdiskusi dan berdebat, bahkan pertemuan rutin sering dirangcang dan dilaksanakan di situ.[2] Dan juga para ulama, pujangga dan ahli-ahli ilmu pengetahuan lainnya untuk berdiskusi, berdebat dan bertukar pikiran dalam berbagai masalah ilmiah.

d.   Rumah-rumah para ulama ahli ilmu pengetahuan
Rumah bukanlah tempat yang baik untuk tempat memberikan pelajaran namun pada zaman kejayaan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayan Islam, banyak juga rumah-rumah para ulama dan para ahli ilmu pengetahuan menjadi tempat belajar dan pengembangan ilmu pengetahuan. Rumah para ulama terkenal yang menjadi tempat belajar adalah rumah Ibnu Sinah, Al-Ghazali, Ali Ibnu Muhammad Al-Fasihi, Yakub Ibnu Kilis, wazir Khalifah Al-Aziz Billah Al-Fatimy dan lainnya.

e.    Majelis
Dalam majelis adalah suatu majelis khusus yang diadakan oleh khalifah-khalifah untuk membahas dalam bebagai macam ilmu pengetahuan. Majelis ini dimulai pada masa khalifah Al-Rasyidin yang biasa memberi ketua-ketua dan diskusi dengan para sahabat untuk memecahkan masalah yang dihadapi pada masa itu. Pada masa Harun Al-Rasyid (170-193H) majelis ini mengalami kemajuan yang luar biasa karena khalifah sendiri adalah ahli ilmu pengetahuan dan juga cerdas sehingga khalifah aktif didalamnya.
Dengan berkembangnya pengetahuan dalam Islam, majelis digunakan sebagai kegiatan transfer ilmu pengetahuan sehingga majelis banyak ragamnya. Menurut Muniruddin Ahmed ada 7 macam majelis, yaitu: majelis al-Hadis, majelis al-Tadris, majelis al-Munazharah, majelis al-Muzakarah, majelis al-Syu’ara, majelis al-Adab, majelis al-Fatwa dan an-Nazar.

f.     Badi’ah (padang pasir desa tempat tinggal Padwi)
Sejak berkembang kuatnya Islam dan bahasa arab digunakan sebagai bahasa pengantar sejak berkembangnya umat Islam. Maka bahasa arab cenderung kehilangan keasliannya. Oleh karena itu badi’ah menjadi pusat untuk pelajaran bahasa arab yang asli dan murni. Sehingga banyak anak-anak khalifah yang pergi kesana untuk mempelajari ilmu bahasa dan kesusasteraan arab.

g.    Rumah sakit
Dahulu, rumah sakit pada zaman klasik bukan saja berfungsi sebagai tempat merawat dan mengobati orang sakit, namun pada zaman kemajuan dan kebudayaan Islam dalam rangka menyebarkan ajaran Islam banyak didirikannya rumah sakit oleh khalifah dan para pembesar-pembesar negara. Rumah sakit bukan hanya berfungsi sebagai tempat merawat, tetapi juga menjadi tempat mendidik. Tenaga-tenaga yang berhubungan dengan perawat dan pengobat mereka menjadikan penelitian, percobaan dalam bidang kedokteran dan obat-obatan.

h.   Perpustakaan
Pada zaman perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam, buku mempunyai nilai yang sangat tinggi. Buku digunakan sebagi sumber informasi, berbagai macam ilmu pengetahuan yang ada dan telah dikembangkan oleh para ahlinya. Disamping itu perkembangan perpustakaan yang bersifat umum yang diselenggarakan oleh pemerintah atau wakaf dari ulama sarjana di baitul Baghdad yang didirikan oleh khalifah Harun Al-Arasyid merupakan suatu contoh dari perpustakaan Islam yang lengkap yang berisi ilmu-ilmu agama Islam dan berbagai macam ilmu pengetahuan.

i.      Masjid
Masjid menjadi pusat kegiatan dan informasi berbagai masalah kaum muslimin baik yang menyangkut pendidikan maupun ekonomi. Namun yang terpenting adalah sebagai lembaga pendidikan karena pada mulanya masjid dijadikan tempat untuk sarana informasi dan doktrin ajaran agama Islam. Masjid dalam dunia Islam sepanjang sejarahnya tetap memegang peranan yang pokok, disamping fungsinya sebagai tempat berkomunikasi dengan tuhan juga sebagai tempat lembaga pendidikan dan juga tempat berkumpulnya umat muslim. Perkembangan masjid sangat baik bagi perkembangan yang terjadi di masyarakat. Dengan adanya masjid ini menyebabkan juga berkembangnya menjadi dua bentuk yaitu: jami’ dan masjid.[3] Tetapi jika jami’ masih sedikit masyarakat yang mengikutinya. Jami’ juga dimasukkan ke dalam lembaga pendidikan.

2.    Sistem Pendidikan Di Sekolah-Sekolah
Munculnya lembaga pendidikan formal dalam bentuk sekolah-sekolah dalam dunia Islam merupakan pengembangan semata-mata dari sistem pengajaran yang telah berlangsung di masjid-masjid, yang sejak awal telah berkembang dan dilengkapi dengan sarana-sarana untuk memperlancar pendidikan dan pengajaran didalamnya.

Faktor-faktor yang menyebabkan berdirinya sekolah-sekolah di luar masjid adalah:
ü Khalaqah-khalaqah (lingkaran) untuk mengajarkan berbagai ilmu prengetahuan yang didalamnya juga terjadi diskusi dan pendebatan yang ramai, sering satu sama lain saling mengganggu sehingga jama’ah masjid pun sering terganggu.
ü Berkembangnya ilmu pengetahuan, baik mengenai agama maupun umum yang diperlukan semakin banyak khalaqah-khalaqah (lingkaran-lingkaran pengajaran) yang tidak mungkin keseluruhan masuk di ruangan masjid.

Faktor-faktor yang mendorong penguasa untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai bangunan-bangunan yang terpisah dari masjid antara lain:
1.    Masa Turki mulai berpengaruh dalam pemerintahan Bani Abbasiyah, dan untuk mempertahankan kedudukan mereka dalam pemerintahan, mereka berusaha untuk menarik hati kaum muslimin pada umumnya, dengan jalan memperhatikan pendidikan dan pengajaran bagi rakyat umum.
2.    Mereka mendirikan sekolah-sekolah tersebut, di samping dengan harapan untuk mendapatkan simpati dari rakyat umumnya juga beharap mendapat ampunan dan  pahala dari Tuhan.
3.    Kekhawatiran mereka kalau nantinya kekayaan tersebut tidak bisa diwariskan kepada anak-anaknya karena diambil sutan.
4.    Usaha untuk mempertahankan dan mengembangkan aliran keagamaan dari pembesar negara yang bersangkutan.

Berdirinya sekolah-sekolah tersebut, lengkaplah lembaga pendidikan Islam yang bersifat formal, mulai dari tingkat dasar yaitu kuttab sampai tingkat menengah dan tingkat tinggi. Lembaga pendidikan ini belum mempunyai kurikulum yang seragam, tetapi masih bervariasi antara madrasah yang satu dengan lainnya. Hal ini sangat tergantung kepada keahlian guru-gurunya, pandangan tentang kepentingan suatu ilmu pengetahuan ,dan berhubungan pula dengan perhatian dari para pembesar pendiri sekolah-sekolah atau madrasah yang bersangkutan. Mahmud Yunus, secara garis besar menggambarkan pokok-pokok rencana pelajaran pada berbagai tingkatan pendidikan tersebut sebagai berikut:

1.    Rencana pelajaran kuttab (pendidikan dasar):
Rencana pelajaran kuttabnya antara lain: membaca Al-Quran dan menghafalnya, pokok-pokok agama Islam, seperti cara wudhu, salat, puasa dan sebagainya, menulis, kisah atau riwayat orang-orang besar Islam, membaca dan menghafal syair-syair atau nasar (prosa), berhitung, dan pokok-pokok nahwu dan saraf ala kadarnya.
2.    Rencana pelajaran tingkat menengah:
Rencana pelajaran kuttabnya antara lain: Al-Quran, Bahasa Arab dan kesustraanya, Fiqh, Tafsir, Hadis, Nahwu/saraf/balagah, Ilmu-ilmu pasti, Mantiq, Ilmu Falak, Tarikh (sejarah), Ilmu-ilmu Alam, Kedokteran, dan Musik.
3.    Rencana pelajaran pada pendidikan tinggi
Pada umumnya rencana pelajaran pada perguruan tinggi Islam, dibagi menjadi dua jurusan, yaitu:
a.    Jurusan ilmu-ilmu agama dan bahasa serta sastra Arab, yang juga disebut sebagai ilmu-ilmu Naqiyah, yang meliputi: Tafsir Al-Quran, Hadis, Fiqh dan ushul Fiqh, Nahwu/saraf, Balagah, Bahasa Arab dan Kesusastraannya
b.    Jurusan ilmu-ilmu umum, yang disebut sebagai ilmu Aqliyah meliputi: Mantiq, Ilmu-ilmu alam dan kimia, Musik, Ilmu-ilmu pasti, Ilmu ukur, Ilmu falak, Ilmu Hahiyah (Ketuhanan), Ilmu Hewan, Ilmu Tumbuh-tumbuhan, dan Kedokteran.

3.    Puncak Kemajuan dan Kebudayaan Islam
Tumbuh dan berkembangnya ilmu pengetahuan dan kebudayan islam adalah sebagai akibat dari berpadunya unsur-unsur pembawaan ajaran islam dengan unsur-unsur yang berasal dari luar. Dalam bidang filsafat ketuhanan atau teologi, perkembangan ilmu kalam dengan berbagai macam pola pikiran, timbullah pula berbagai macam aliran dalam ilmu kalam yang mempunyai pola pemikiran yang bersifat memadukan pola fikir rasional. Disamping aliran teologi biasa, yang mempunyai corak khusus
sebagaimana telah dikembangkan oleh golongan syi’ah. Semua aliran fikiran tersebut selalu berusaha untuk saling berebut dan mendapatkan dukungan dari pemeritah dan filsafat ilmiah yang berasal dari luar islam mendapatkan tempat dalam dunia islam.
Henri Marginon dan David telah mendaftarkan cabang ilmu pengetahuan yang telah dikembangkan sebagai hasil perkembangan fikiran yang ilmiah dikalangan kaum muslimin pada masa jayanya. Yang kemudian berangsur-angsur berpindah kedunia barat adalah sebagai berikut:
·       Dalam bidang matematika, telah dikembangkan oleh para sarjana muslim berbagai macam ilmu pengetahuan,seperti teori ilmu bilangan, aljabar, geometrid dan trigonometri.
·       Dalam bidang fisika, mereka telah berhasil mengembangkan ilmu mekanik dan optika.
·       Dalam bidang kimia, telah berkembangnya ilmu kimia
·       Dalam bidang astronomi, kaum muslimin telah memiliki ilmu mekanika benda-benda langit.
·       Dalam bidang goelogi, para ahli pengetahuan muslim telah mengembangkan geodisi, mineralogy dan meteorology.
·       Dalam bidang biologi, mereka telah memiliki ilmu psikologi, anatomi, betani, embriologi dan patologi.
·       Dalam bidang sosial, telah berkembangnya ilmu politik.
     Dalam bidang kebudayaan, Islam telah mempersembahkan kepada dunia suatu tingkat budaya yang tinggi. Contohnya dalam bidang arsitektur yang sangat menonjol bangunan masjid dan istana-istana yang indah. Seni musik dan seni lukis apalagi seni sastranya, dunia Islam dihisai dengan serba keindahan yang mempesona dunia pada masanya.[1] Tumbuh dan berkembangnya kebudayaan Islam adalah sebagai akibat perpaduan unsur-unsur pembawaan ajaran agama Islam


[1] Omar Amin Husein, Kultur Islam, Bulan Bintang, Jakarta 1981


[1] Hanun Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Logos, 1999, hlm. 49
[2] A. Shalabi, History of Moslem Education, Beirut, 1954, hlm. 31
[3] Hanun Asrohah, op.cit., hlm. 57
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: MASA KEJAYAAN PENDIDIKAN ISLAM Description: Rating: 5 Reviewed By: Unknown
Scroll to Top