ISLAM DAN PENGAJARAN

Selasa, 03 Januari 2012


BAB I
PENDAHULUAN
Seiring dengan perkembangan sejarah peradaban Islam, maka terjadilah perkembangan yang secara bertahap dalam pendidikan Islam. Salah satu perkembangan yang terjadi adalah lembaga-lembaga pendidikan Islam yang muncul, serta cirri-ciri yang ada dalam lembaga tersebut. Dalam hal ini ciri yang kami bahas adalah mengenai peserta didik.
Peserta didik merupakan masukan dalam sistem pendidikan, yang diproses dalam proses pendidikan melalu kegiatan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran berjalan dengan baik apabila adanya pendidik dan peserta didik yang terlibat dalam proses pembelajaran. Pendidik merupakan seseorang yang mendidik, y
ang pada umumnya disebut sebagai guru, sedangakan peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran pada jalur pendidikan baik pendidikan formal maupun pendidikan nonformal, pada jenjang pendidikan dan jenis pendidikan tertentu.[1]
Sebagai suatu komponen pendidikan, peserta didik dapat ditinjau dari berbagai pendekatan, antara lain pendekatan sosial, pendekatan psikologis, dan pendekatan edukatif/paedagogis. Dalam pendekatan social, peserta didik merupakan masyarakat yang sedang melakukan interaksi, baik dengan guru maupun teman sesama murid. Selain itu, dalam kegiatan pembelajaran adanya nilai-nilai social yang ditanamkan oleh sseorang guru kepada muridnya. Kemudian dalam pendekatan psikologis, peserta didik adalah suatu organisme yang sedang tumbuh dan berkembang. Peserta didik memiliki berbagai potensi manusiawi, seperti: bakat, inat, kebutuhan, social-emosional-personal, dan kemampuan jasmaniah. Potensi-potensi itu perlu dikembangkan melalui proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Sedangkan dalam pendekatan edukatif/paedagogis, peserta didik sebagai unsur penting, yang memiliki hak dan kewajiban dalam rangka sistem pendidikan menyeluruh dan terpadu. Untuk pemaparan lebih jelasnya akan dipaparkan pada bab selanjutnya.

BAB II
PEMBAHASAN

I.                   ISLAM DAN PENGAJARAN
Salah satu perintah yang sangat penting yang diperintahkan oleh agama Islam kepada para pemeluknya adalah perintah untuk menuntut Ilmu. Para pelajar Islam sejatinya harus memiliki semangat  yang besar dalam menuntut ilmu pengetahuan. Berbagai macam rintangan tak menjadi alasan bagi mereka berhenti untuk mendapatkan ilmu. Hal ini dapat dilihat dari generasi-generasi terdahulu Umat Islam yang begitu semangatnya dalam menuntut ilmu  pengetahuan, yang mana kondisi mereka sangatlah jauh berbeda dengan kondisi kita (Umat Islam) saat ini, mereka harus menempuh jarak yang jauh hanya dengan menunggangi unta ataupun binatang-binatang tunggangan lainnya, dan juga fasilitas-fasilitas kehidupan lainnya yang sangat sederhana dan tak semodern seperti zaman sekarang,   namun mereka tidaklah memperdulikan rintangan-rintangan tersebut, sehingga dengan kemauan dan usaha yang sungguh-sungguh itulah ilmu pengetahuan dapat diraih. Tentunya ada faktor-faktor pula yang menjadikan mereka semangat dan sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu pengetahuan, diantara faktor-faktor tersebuat adalah banyaknya keterangan yang terdapat dalam Al Quran dan Hadits Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan tentang kewajiban dan keutamaan menuntut ilmu serta balasan-balasannya.
Diantara ayat-ayat Al –Quran tersebut adalah:
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) Ÿ@ŠÏ% öNä3s9 (#qßs¡¡xÿs? Îû ħÎ=»yfyJø9$# (#qßs|¡øù$$sù Ëx|¡øÿtƒ ª!$# öNä3s9 ( #sŒÎ)ur Ÿ@ŠÏ% (#râà±S$# (#râà±S$$sù Æìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_uyŠ 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎Î7yz ÇÊÊÈ  
Artinya: Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (Q.S. Al-Mujadalah: 11)
ô`¨Br& uqèd ìMÏZ»s% uä!$tR#uä È@ø©9$# #YÉ`$y $VJͬ!$s%ur âxøts notÅzFy$# (#qã_ötƒur spuH÷qu ¾ÏmÎn/u 3 ö@è% ö@yd ÈqtGó¡o tûïÏ%©!$# tbqçHs>ôètƒ tûïÏ%©!$#ur Ÿw tbqßJn=ôètƒ 3 $yJ¯RÎ) ㍩.xtGtƒ (#qä9'ré& É=»t7ø9F{$# ÇÒÈ  
 Artinya: (apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Q.S. AZ-Zumar: 9)

$tBur šc%x. tbqãZÏB÷sßJø9$# (#rãÏÿYuŠÏ9 Zp©ù!$Ÿ2 4 Ÿwöqn=sù txÿtR `ÏB Èe@ä. 7ps%öÏù öNåk÷]ÏiB ×pxÿͬ!$sÛ (#qßg¤)xÿtGuŠÏj9 Îû Ç`ƒÏe$!$# (#râÉYãŠÏ9ur óOßgtBöqs% #sŒÎ) (#þqãèy_u öNÍköŽs9Î) óOßg¯=yès9 šcrâxøts ÇÊËËÈ  
Artinya: Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (Q.S. At-Taubah; 122)

!$tBur $uZù=yör& ÆÏB y7Î=ö6s% žwÎ) Zw%y`Í ûÓÇrqœR öNÍköŽs9Î) 4 (#þqè=t«ó¡sù Ÿ@÷dr& ̍ø.Ïe%!$# bÎ) óOçGYä. Ÿw tbqçHs>÷ès? ÇÍÌÈ  
Artinya: Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (Q.S. An-Nahl: 43)
Adapun diantara hadits-hadits yang berhubungan dengan masalah menuntut ilmu adalah:
مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ...
Artinya: ..Barangsiapa dikehendaki Allah untuk mendapat kebaikan, maka Allah akan mengaruniakan kepadanya pengetahuan yang mendalam tentang agama…(H.R. Bukhori)
وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ
Artinya:…Dan keutamaan orang yang berilmu atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas bintag-bintang, sesungguhnya orang-orang yang berilmu itu adalah pewaris para nabi, sesungguhnya para nabi tidaklah mewarisi dinar ataupun dirham, sesungguhnya mereka mewarisi ilmu (H.R. Tirmidzi)
Selain itu banyak pula pendapat-pendapat para cendikiawan Islam yang menjelaskan mengenai keutamaan ilmu dan keutamaan dalam menuntutnya. Mereka menjelaskan keutamaan keduanya dengan kata-kata yang indah sehingga mampu menimbulkan semangat bagi yang mendengar dan membacanya. Salah satu ungkapan yang indah tersebut adalah sebagaimana diungkapkan oleh Ibnul-Muqaffa, yang mana beliau berkata: “Ilmu pengetahuan itu akan menjadi perhiasan bagi pemiliknya dalam waktu makmur (senang), dan akan menjadi penolong dalam masa-masa krisis (susah)”. Selain itu, kisah-kisah mereka dalam menuntut ilmu pun menjadi inspirasi bagi generasi sesudah mereka. Banyak dari mereka yang menuntut ilmu sampai puluhan tahun, bahkan sebagian dari mereka tidaklah berhenti dalam menuntut ilmu sampai akhir hayat mereka.
Dari keterangan-keterangan yang berasal dari Al-Quran, Hadits, serta perkataan-perkataan para cendekiawan mengenai keutamaan ilmu dan keutamaan menuntutnya, jelaslah bahwa Agama Islam sangat menempatkan para penuntut ilmu di derajat yang mulia. Hal ini dikarenakan ilmu merupakan dasar yang harus dimiliki seseorang dalam melaksanakan ibadah agar ibadah yang dilakukan sesuai dengan tuntunan agama dan tidak sia-sia belaka, baik ibadah yang bersifat hablumminallah ataupun yang berkaitan dengan mu’amalah (hablumminannas).
II.    MELATIH ANAK-ANAK MENURUT PANDANGAN BEBERAPA FILOSOF ISLAM
1.      Menurut Al-Ghazali :
Metode melatih anak adalah salah satu dari hal-hal yang amat penting,anak adalah amanat yang dipercayakan kepada ibu bapaknya. Hatinya yang masih murni itu merupaka permata yang amat berharga. Oleh Karena itu perlu diajari dan dibiasakan dengan sifat-sifat yang baik dan menjaga anak tersebut dari dosa, serta mengajarinya budi perketi luhur,dan menjaga dari bergaul dengan anak-anak yan nakal. Jangan membiasakan dengan kehidupan yang serba enak, dan jangan mendorongnya untuk mencintai perhiasan. Diantara sidat lainnya adalah :
·            Menumbuhkan sifat malu yang posiif
·            Menyibukkan anak-anak dengan ilmu pengetahuab yang bermanfaay dan Al-Quran da menjauhkannnya dari syair-syair cinta yang memabukkan
·            Memberikan apresiasi (reward) terhadap sifat positif yang dilakukanya dan memberikan punishment sewajarnya
·            Jangan biasakan tidur saat siang hari dan tidur di tempat tidur yang empuk
·            Mencegah membanangga-banggakan apa yang dimilikinya kepada teman-temannya
·            Cegah anak bergaul dengan anak-anak yang jelek akhlaknya dalan malas sikapnya
·            Memberika waktu bermain setalah anak letih dengan aktifitas belajarnya

2.         Menurut Ibnu Sina :
Kita harus menumpahkan perhatian untuk memelihara akhlak anak-anak dengan cara menjaga amarahnya, ketakutanyang amat sangat, rasa sedih, kurang tidur. Juga harus memperhatikan kesenangan dan perhatiannya. Dan perhatikan pula yang tidak disukainya.
Tapi bukan untuk menuruti semua kemauannya, tetapi memudahkan kehidupan ini baginya. Karena akan mendapat 2 manfaat, yaitu manfaat untuk rohani dan manfaat untuk jasmaninya.

Dalam makalah metode pengajaran agama pada balita dan remaja dismpulkan bahwa[2]:
1.      Metode pengajaran agama pada anak balita[3]; mendengarkan azan dan iqamah saat kelahiran anak, metode hiwar, metode ketauladanan, metode pembiasaan, metode drill atau latihan, metode pemberian hadiah.
2.      Metode pengajaran agama pada anak-anak yaitu  ketaladanan, pembiasaan, nasehat, kisah, dan hukuman yang mendidik.
3.      Metode pengajaran agama pada anak remaja yaitu keteladanan, demonstrasi[4], pemberian tugas.
4.      Pendekatan pengajaran agama dalam lingkungan keluarga yaitu pendidikan anak pranatal, menyusui bayi, mendengarkan azan dan iqamah, memberi nama yang baik, mengisi waktu luang anak dengan yang bermanfaat, pembinaan dan mencotohkan, hindari konflik orang tua di depan anak.  melaksanakan ibadah dengan teratur, menyerukan anak ikut berpartisipasi dalam keagamaan.
5.      Pendekatan pengajaran agama dalam lingkungan masyarakat yaitu, sosiologis, historis, kebudayaan dan psikologis

III.             PERSAMAAN KESEMPATAN UNTUK BELAJAR
Islam memberikan kesempatan yang sama bagi semua peserta didik untuk mendpatkan pendidikan atau belajar. Abuddin Nata menyatakan bahwa peserta didik yang masuk di lembaga pendidikan tidak ada perbedaan derajat atau martabat, karena penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan dalam suatu ruangan dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan dari pendidik. Pendidik harus mengajar anak orang yang tidak mampu dengan yang mamppu secara bersama atas dasar penyediaan kesempatan belajar yang sama bagi semua peserta didik. Dalam pendidikan islam tidak ditemmukan system sekolah unggul karena hal tersebut tidak sesuai dengan prinsip demokrasi pendidikan islam sebab bersifat diskriminasi terhadap peserta didik. Pendidik harus mampu memberikan kesempatan yang sama kepada semua peserta didik untuk mendapatkan pendidikan. Pengajaran telah dimulai di mesjid-mesjid yang selalu terbuka lebar bagi semua orang. Dan di sekolah-sekolah yang terbatas jumlah yang belajar di dalamya. Penyediaan kesempatan untuk menutut ilmu pengetahuan, tidak terbatas di masjid dan di sekolah saja, namun juga disediakan kuttab-kuttab (sekolah-sekolah dasar atau sekolah rendah). Bahkan banyak sekali kemudahan-kemudahan menuntut ilmu di seluruh penjuru negeri islam, khususnya dalam hal biaya, bahkan tak jarang seluruh kehidupannya dalam menuntut ilmu itu dibiayai oleh negeri tersebut.
Seperti di mesir, ibnu djubair menyebutkan : bahwa salah satu dari peninggalan shalahudin yang amat bermanfaat adalah ia memerintahkan untuk membangun tempat-tempat penampungan yang dilengkapi dengan guru-guru yang mengajarkan al-Quran, guru ini khusus memberikan pelajaran kepada anak-anak yatim dan miskin. Demikian pula Al-Qidli al-fadlil menyediakan waqaf-waqaf untul pendidikan anak-anak yatim.
Di Mesir pula, dalam ucapan Stanley lane poole, ia berbicara tentang perguruan al-azhar : di Al-azhar berkupul banyak sekali para pelajar, mereka itu datang dari berbagai negeri islam, mulai dari pantai emas di barat, hingga kepulauan melayu di timur. Dan telah disediakan pula tempat-tempat tinggal tertentu sesuai asal negeri mereka masing-masing. Para pelajar menerima pelajaran dari guru-guru besar terkemuka yang bertaqwa disana para pelajar tidak hanya mendapatkan pelajaran secara cuma-cuma, tapi juga memperolah waqaf-waqaf khusus yag dapat memenuhi kehidupan dan keperluan-keperluan mereka. Dengan demikian maka al-azhar merupaka tauladan dalam melaksanakan pengajaran secara cuma-cuma, yang diberikan kepada semua pelajar yang berbeda-beda bangsa dan bahasanya, tanpa adanya suatu pembeda apapun, baikmengenai asal-usul atau tingkatan social mereka.

IV.             PENGARAHAN MURID-MURID MENURUT BAKATNYA MASING-MASING
Secara sederhana, pendidikan dapat diartikan sebagai bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Sementara pendapat lain mengatakan, bahwa pendidikan mencakup berbagai dimensi, antara lain akal, perasaan, kehendak, dan seluruh unsur atas kejiwaan manusia serta bakat-bakat dan kemampuannya. Oleh karena itu pendidikan merupakan usaha pengembangan seluruh potensi anak didik secara bertahap menuju kesempurnaan. Awal dimulainya proses pendidikan, yakni sejak bersatunya sperma dan ovum sebagai awal kejadian manusia, bahkan mungkin sebelum itu. Sementara batas akhir pendidikan menurut al-Ghazali adalah tidak ada, dalam artian selama hayatnya manusia wajib menuntut ilmu (pendidikan), dan bisa berhenti ketika sudah mati.[5]
Secara umum, bakat (aptitude) adalah kemampuan potensial yang dilmilki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Dengan demikian, sebenarnya, setiap orang pasti memiliki bakat dalam arti berpotensi untuk mencapai prestasi sampai ketingkat tertentu sesuai dengan kapasitas masing-masing. Jadi, secara global bakat itu mirip dengan intelegensi. Itulah sebabnya seorang anak yang berintelegensi sangat cerdas atau cerdas luar biasa disebut juga sebagai anak berbakat. Dalam perkembangan selanjutnya, bakat kemudian diartikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan. Bakat akan dapat mempengaruhi tinggi-rendahnya prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu. Oleh karenanya adalah hal yang tidak bijaksana apabila orang tua memaksakan kehendaknya untuk menyekolahkan anaknya pada jurusan keahlian tertentu tanpa mengetahui terlebih dahulu bakat yang dimiliki anaknya itu.
Suatu ilmu yang dipelajari harus sesuai dengan kemampuan para murid, karena tidak setiap orang cocok untuk memperdalam ilmu pengetahuan. Apabila si murid telah menjurus kepada suatu ilmu, hendaknya ia memilih ilmu yang sesuai dengan kemampuannya. Para pendidik islam telah mengungkap adanya perbedaan kecerdasan, salah satunya Imam Al-ghazaly, Ia mengungkapkan apabila kekuatan badan si anak melebihi kekuatan jiwanya maka ia memerlukan lebih banyak belajar dan waktu yang lebih panjang. Dan apabila kekuatan akalnya melebihi kekuatan panca inderanya, maka dengan sedikit berpikir dia tidak membutukan lagi ilmu pengetahuan. Oleh karena itu kewajiban guru, seharusnya tidak mencampurkan antara murid yang cerdas dan murid yang bodoh dalam belajar, karena akan merugikan murid yang cerdas dan akan memaksa murid yang bodoh.
 Dalam hal ini, murid yang kurang pintar harus mampu mengembangkan dirinya. Pengembangan diri ini memberikan kesempatan kepadsa muri untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan bakatnya si murid.

V.                Usia Belajar
Dalam Islam menuntut ilmu tidak di batasi oleh usia, bahkan menuntut ilmu menjadi suatu kewajiban sampai usia telah lanjut. Karena itu, hendaknya usia kita manfaatkan untuk belajar dan menuntut ilmu. Sebagai pelajar yang masih berusia muda hendaknya kita mencari ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya, sehingga ilmu tersebut sebagai bekal di hari kelak.
Mencari ilmu dalam islam merupakan ibadah dan tidak terkait pada syarat dan usia tertentu. Sejak anak dilahirkan kealam dunia ini sesungguhnya adalah awal manusia mulai belajar, karena di dalam Islam dikatakan bahwa manusia itu belajar sejak ia dilahirkan sampai ia masuk kedalam liang lahat. Sungguh luar biasa ajaran Islam mendidik umatnya untuk terus menuntut ilmu pengetahuan tanpa mengenal usia, selama kita masih bisa menikmati hidup, selama kita masih bisa menghirup udara, selama kita masih bisa bergerak itu artinya kita wajib menuntut ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu ketika seorang anak mulai dilahirkan kealam dunia ini orang tua sudah mulai mengajari anaknya dengan berbagai hal tentunya dengan konsep dan metode yang sesuai dengan usianya.[6]
Belajar sepanjang hayat adalah suatu konsep tentang belajar terus menerus dan berkesinambungan dari buaian sampai akhir hayat, sejalan dengan fase-fase perkembangan pada manusia. Oleh karena setiap fase perkembangan pada masing-masing individu harus dilalui dengan belajar agar dapat memenuhi tugas-tugas perkembanganya, maka belajar itu dimulai dari masa kanak-kanak sampai dewasa dan bahkan masa tua. Belajar sepanjang hayat merupakan kewajiban setiap manusia tidak mengenal usia, status, ruang dan waktu serta yang lainnya. Konsep belajar sepanjang hayat sesungguhnya telah lama ada dalam ajaran Islam sesuai dengan hadis yang berbunyi:
”Tuntutlah ilmu oleh kalian mulai sejak di buaian hingga liang lahat”.

Dengan memperhatikan hadits tersebut, dapat dipahami bahwa aktivitas belajar sepanjang hayat memang telah menjadi bagian dan kehidupan kaum muslimin.

VI.             JUMLAH MURID-MURID DALAM SATU KELAS ATAU SATU KELOMPOK
Zaman yang kita selidiki para pelajar yang duduk dihadapan guru-guru mereka bahwa jumlah para pelajar yang belajar dimesjid-mesjid adalah sangat berbeda dengan jumlah mereka yang belajar di madrasah-madrasah. Belajar pada masjid itu pada umumnya lebih besar dari pada jumlah mereka yang belajar di madrasah-madrasah karena di masjid itu terbuka untuk umum dan jumlah pelajar dibatasi bisa menghimpun beratus orang pelajar.
Berlaku pada madrasah-madrasah di sekolah bahwa guru yang akan memberikan pelajaran disana adalah diangkat oleh pendiri sekolah dan pendiri sekolah itupun yang menentukan jumlah para pelajar yang diperbolehhkan mengikuti pelajaran pada sekolah itu.
Adapun pada kuttab tingkatan rendah, misalnya pada kuttab, maka gurunya hanya mempuyai Murid-murid dalam jumlah yang terbatas, yang terdiri dari anak-anak. Dinyatan bahwasanya guru pada sekolah rendah itu haruslah menjaga agar anak-anak yang diberinya pelajaran jangan sampai berjumlah banyak. Ia harus menjaga hal itu, sebab apabila jumlahnya banyak, maka ia tak akan berhasil untuk mengajarkan apa-apa kepada mereka dengan cara yang baik.
Sekolah sebagai organisasi kerja terdiri dari beberapa kelas, baik yang bersifat paralel maupun yang menunjukkan penjenjangan. Setiap kelas merupakan untuk kerja yang berdiri sendiri dan berkedudukan sebagai sub sistem yang menjadi bagian dari sebuah sekolah sebagai total sistem. Pengembangan sekolah sebagai total sistem atau satu kesatuan organisasi, sangat tergantung pada penyelenggaraan dan pengelolaan kelas. Baik di lingkungan kelas masing-masing sebagai unit kerja yang berdiri sendiri maupun dalam hubungan kerja antara kelas yang satu dengan kelas yang lain.
Oleh karena itu setiap guru kelas atau wali kelas sebagai pimpinan menengah (middle manager) atau administrator kelas, menempati posisi dan peran yang penting, karena memikul tanggung jawab mengembangkan dan memajukan kelas masing-masing yang berpengaruh pada perkembangan dan kemajuan sekolah secara keseluruhan, setiap murid dan guru yang menjadi komponen penggerak aktivitas kelas, harus didayagunakan secara maksimal agar sebagai suatu kesatuan setiap kelas menjadi bagian yang dinamis di agar sebagai suatu kesatuan setiap kelas menjadi bagian yang dinamis di dalam organisasi sekolah.
Dari uraian di atas jelas bahwa  program kelas akan berkembangan bilamana guru/wali kelas mendayagunakan secara maksimal potensi kelas yang terdiri dari tiga unsur yakni: guru, murid dan proses atau dinamika kelas.
1.      Kelas dalam arti sempit yakni ruangan yang dibatasi oleh empat dinding, tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses mengajar belajar. Kelas dalam pengertian tradisional ini mengandung sifat statis karena sekedar menunjuk pengelompokan pada batas umur kronologis masing-masing.
2.      Kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah, yang sebagai satu kesatuan diorganisir menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan-kegiatan mengajar belajar yang keratif untuk mencapai suatu tujuan. Beberapa faktor yang mempengaruhi perwujudan management kelas dalam pengertian kelas adalah:
a.       Kurikulum
b.      Bangunan dan Sarana
c.       Guru
d.      Murid
e.       Dinamika Kelas
f.       Lingkungan Sekitar

VII.          TUBUH DAN AKAL
Tubuh dan akal adalah sesuatu yang sangat berkaitan dan tak dapat dipisahkan. Hubungan tersebut dapat kita ketahui dari ungkapan terkenal yang menyatakan bahwa “Dalam tubuh yang sehat terdapat akal yang sehat pula”. Umat Islam harus lah memperhatikan hal tersebut, sehingga mereka tidak memforsir kekuatan jasmani yang mereka miliki sehingga dapat menyebabkan datangnya penyakit. Selain itu untuk mendapatkan jasmani yang sehat, maka seseorang haruslah memperhatikan dan mengatur pola makan, minum, tidur atau istirahatnya. Rasululluh SAW pun telah mengajarkan umatnya dalam mengatur makan dan minum umatnya:

عَنْ مِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ قَالَ :سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا           مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

Dari  Miqdam bin Ma’di Karib berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada tempat yang dipenuhi oleh anak Adam yang lebih buruk daripada perutnha. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap saja, asal dapat menegakkan tulang rusuknya. Tetapi, apabila ia terpaksa melakukannya, maka hendaklah sepertiga (dari perutnya itu) diisi dengan makanan, sepertiganya dengan minuman dan sepertiganya lagi dengan nafasnya”. (H.R. Tirmidzi). Dalam kaitannya dengan cara seseorang tidur Rasulullah SAW pun telah menjelasjannya pula:

عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ :قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ ثُمَّ قُلْ اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

Dari Al-Baraa bin A’zib berkata: Berkata Nabi SAW: “Apabila kamu mendatangi tempat berbaringmu, maka berwudhu’lah sebagaimana kamu berwudhu’ untuk sholat. Kemudian berbaringlah di atas sisimu badanmu sebelah kanan dan ucapkanlah, “Ya Allah ku serahkan jiwaku kepada-Mu, ku letakkan urusanku kepada-Mu, dan ku sandarkan punggungku kepada-Mu, sebagai rasa suka dan rasa takut kepada-Mu. Tidak ada tempat bersandar dan tidaak ada tempat berlindung kecuali kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang Engkau turunkan, dan kepada Nabi-Mu yang Engkau utus…”. (H.R. Bukhori)
Dari keterangan di atas jelaslah bahwa agama Islam melalui lisan Nabi Muhammad SAW, telah mengajarkan cara mengatur pola kehidupan manusia, dari perkara makan sampai tidur,  karena beliau pun tahu bahwa pola makan, minum, dan tidur seseorang sangat berpengaruh bagi kesehatan jasmani, dan kesehatan jasmani sangat berpengaruh bagi kesehatan akal.
Prinsip tersebut pun dipakai dalam lembaga-lembaga pendidikan Islam. Mereka mengetahui bahwa, ketika tubuh mengalami sakit ataupun kelelahan dapat mengganggu manusia dalam proses berfikir. Para ahli didik Islam pun mengetahui bahwa salah satu kebiasaan dari anak-anak didiknya adalah giat, rajin, dan lincah. Mereka berusaha untuk mengembangkan kebiasaan ini disertai dengan perhatian yang mendalam terhadap kesehatan mereka, sebab pada kegiatan tubuh itulah terletaknya kegesitan akal dan kejernihan dalam bepikir. Oleh sebab itu, anak-anak didik harus diberikan bimbingan agar dalam melakukan kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan dapat membantu perkembangan tubuh dan akal mereka.

VIII.       BUDI PEKERTI MURID-MURID DAN KEWAJIBAN-KEWAJIBAN MEREKA
Diantara budi pekerti dan kewajiban-kewajiban yang harus dimiliki seorang murid adalah:
1.         Menjaga dirinya dari sifat-sifat tercela.
2.         Mengurangi hubungannya dengan urusan-urusan yang bersifat duniawi.
3.         Memasang niat yang benar.
4.         Taat dan hormat kepada guru.
5.         Tidak tergesa-gesa dalam memilih guru (memperhatikan ilmu dan akhlak dari sang guru).
6.         Istiqomah selama menuntut ilmu.
7.         Bagi pemula hendaknya menjauhi pertikaian-pertikaian pendapat, karena dapat menyebabkan ketegangan dalam pikiran.
8.         Berusaha memunculkan rasa cinta kepada ilmu pengetahuan.
9.         Mencatat setiap yang penting yang dia dapatkan dalam pembelajaran.
10.      Mengulang-ulang ilmu yang telah dipelajari.
11.     Tidak terlalu banyak makan dan tidur.

IX.             HUBUNGAN MURID DENGAN MURID
Kehadiran seorang guru tidak bisa di bandingkan dengan sekedar mempelajari pengetahuan ataupun ssekedar menjalankan dogma ritual spiritual, seorang guru yang sedang membabarkan kasih dan mengungkapkan makna cinta tertinggi, memiliki “sumber” kebijaksanaan yang mampu membimbing para muridnya ke tingkat pengalaman spiritual yang lebih tinggi.
Mungkin kita ragu apakah benar demikian bahwa guru adalah di atas segala-galanya bukannya pengetahuan, atau bahkan Tuhan pun masih tidak bisa dibandingkan dengan keberadaan guru. Bukankah, banyak guru palsu yang berkeliaran, atau banyak guru yang belum mencapai pencerahan? Bukankah sangat jarang guru yang memiliki kualifikasi luar biasa seperti idealnya dikatakan demikian? Benar sekali banyak guru yang mesti diragukan kadar kesuciannya. Ini kalau dilihat dari kacamata si subyek, yakni guru itu sendiri, kita bisa meragukannya. Tetapi jika kita sebagai murid, tidak ada guru yang palsu. Jika murid berpandangan dan memposisikan diri sebagai murid, guru palsu tidak ada, semua yang namanya guru adalah riil.
Yang menentukan apakah murid akan maju secara spiritual bukan pada pertanyaan apakah gurunya berkualitas, tetapi apakah kita sebagai murid memiliki potensi atau kualifikasi sebagai murid? Jika murid tidak memiliki kualitas, betapa pun hebatnya guru tidak akan banyak membantu.
Kalau murid yang mempertanyakan kualitas guru, maka dipastikan, dia bukan seorang murid, sebab jauh di hatinya tidak ada rasa bhakti, tidak ada tunduk hati. Murid seperti itu adalah murid yang egois, murid yang pamrih. Murid seperti itu tidak akan pernah bisa belajar, sebab pikirannya disibuki oleh keraguan, kebimbangan. Tanpa rasa bhakti, humble, rendah hati, kesadaran spiritual tidak akan pernah muncul. Siapa pun yang membimbingnya tidak akan penah mendatangkan hasil.
Seorang murid sejati adalah murid yang penuh bhakti, dedikasi, memiliki kepercayaan teguh, dan mantap di dalam tindakan. Nama guru sudah cukup membuatnya maju. Jika potensi murid besar maka nama guru saja akan mampu mengantarkannya ke arah kemajuan spiritual. Apa pun yang dikatakan oleh gurunya, dia jalankan dengan penuh keyakinan. Dengan menyebut nama gurunya, ketika gurunya sendiri menyuruhnya terjun ke laut, maka tidak ada rintangan, sama sekali. Gurunya sempat shock melihat kehebatan apa yang dipunyai muridnya.
Pertanyaan apakah ada guru yang tidak sejati itu merupakan pertanyaan buat guru itu sendiri. Jika yang telah menjadi guru menyatakan ya, maka masih ada guru yang tidak sejati. Tetapi dari sisi murid, guru yang tidak sejati tidak pernah ada dan tidak akan ada. Dari sisi murid yang ada adalah murid yang tidak sejati. Kalau pertanyaannya apakah ada murid yang tidak sejati? Jika jawaban kita ya, maka masih ada murid yang tidak sejati.

X.                Kesungguhan Murid-Murid Untuk Mencari Ilmu
Para pelajar Islam telah mengikuti jejak guru-guru mereka tentang kegiatan dan semangat menuntut ilmu. Keinginan para pelajar untuk mengambil dan mempelajarinya adalah pantulan dari kegairahan guru-guru mereka dalam meberikan pelajaran. Berikut ini adalah salah satu kisah yang menunjukkan bahwa besarnya keinginan mereka terhadap ilmu pengetahuan itu:
Abu Ishaq al-Kazaruni ingin belajar di suatu perguruan untuk menuntut ilmu. Maka ayahnya berkata kepadanya: “Hai anakku, kita ini adalah orang miskin. Lebih baik engkau belajar berdagang, supaya engkau mendapatkan apa yang kau butuhkan”. Maka sianak menjawab: “Baiklah ayah, perdagangan adalah amat penting bagi kita, saya akan melakukannya sepanjang hari”. Akan tetapi, ketika fajar datang ia pergi belajar dan disiang harinya barulah ia pergi ketempat perdagangannya. Dan sambil berdagang ia menggunakan waktu senggangnya untuk mengulangi dan menghafalkan pelajarannya, sehingga dengan cara seperti itu akhirnya ia berhasil menjadi salah seorang sarjana terkemuka pada saat itu.
Dari cerita ini bisa dimaknai bahwa membaca dapat dijadikan sebagai motivasi spiritual bagi setiap muslim pada saat itu untuk selalu berproses dalam mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang nantinya berguna bagi kemaslahatan hidup. Dalam konteks historisnya motivasi ini telah ada semenjak ayat Al-Qur’an pertama diturunkan. Sendi-sendi kehidupan yang bercahaya akan ilmu ini telah ditanam dan dikokohkan oleh Nabi Muhammad Saw yang dipadu dengan keimanan yang kuat untuk selalu berharap akan ridha-Nya. Tradisi keilmuan seperti ini telah membawa kemajuan yang amat pesat di dunia muslim saat itu.
Menuntut ilmu sejak anak dalam buaian samapai ia meninggal dunia merupakan suatu kebutuhan setiap muslim untuk memenuhi ajaran agamanya. Oleh karena itu, umat muslim akan lebih bersemangat untuk menuntut ilmu karena ada harapan pahala dan kebahagian di akhirat. Proses keilmuan tersebut berpengaruh terus hingga dia meninggal dunia. Sebab ilmu akan tetap berproses dan merupakan amal baik yang tidak terputus walaupun seseorang sudah meninggal dunia.
Salah satu tokoh Islam yaitu Muhammad Abduh mengatakan bahwa kepercayaan pada kekuatan akal adalah dasar peradaban sesuatu bangsa. Akal akan dapat memikirkan dan memperoleh jalan-jalan yang membawa pada kemajuan. Pemikiran akallah yang menimbulkan ilmu pengetahuan.



XI.             MERANTAU UNTUK MENUNUT ILMU
“Barang siapa yang mengadakana perjalanan untuk menuntut ilmu, maka ia adalah pejuang fi sabilillah, dan barang siapa yang mennggal dunia dalam perjalanan untuk menuntut ilmu, maka matinya adalah mati syahid.”
Para ulama pada masa dahulu lebih suka merantau jauh dari negeri tempatnya tinggal, hal ini bertujuan agar ia bisa focus dalam menuntut ilmu dan terbagi pikirannya dengan masalah lain.
Abu Darda berkata :
Apabila ada ayat al-quran yang sukar bagiku untuk memahami maksudnya, dan taka da pula seoranpun yang dapat menjelaskannya kepadaku kecuali seseorang yang berada di barku ghamad,niscaya aku akan pergi kesana.
Para pelajar islam telah mematuhi seruan itu, banyak diantara merka telah mengadakan perjalanan yang jauh untuk menuntut ilmu, padahal pada masa itu perjalanan adalah hal yang amat sulit dan sangat melelahkan, karena belum ada jalan-jalan yang tetap dan kafilah-kafilah yang teratur.
Ketika kejayaan islam telah tersebar dimana-mana, rasulullah mengirimkan sahabat untuk membentuk kelom[ok ilmiah di berbagai penjuru daerah tersebut, diantaranya adalah :
·         Abdullah ibnu umair di Madinah
·         Abdullah ibnu abbas di Mekkah
·         Muadz ibnu jabal di Yaman
·         Abu musa al-asy’ari di Bashrah
·         Abdulah ibnu mas’ud di Kufah
·         Abdullah ibnu amr ibn ash di Mesir
Pada masa generasi kedua mulai muncul perbedaan yang nyata diantara kelompok ilmiah tersebut, ada yang ahli tafsir al-quran, periwayatan hadits, ilmu kalam, fiqh dan sebagainya. Diantaranya adalah :
·         Sa’id ibnul musajab di Madinah
·         Rabi’atur ra’ji di Quba
·         Atha ibnu rabah di Mekkah
·         Atha’ ibnu abdillah al-khurasani di Khurasan
·         Al-hasan al-bashri di Basrah
·         An-nakha’I di Khufah
·         Makhul di Syiria
·         Yahya ibnu katsir di Yamamah
·         Thawus di Yaman
·         Yazib ibnu abi habib di Mesir
Berikut kisah-kisah penuntut ilmu tersebut :
Imam Bukhari (265 H), ahli hadits yang terkenal, ia memilki keinginan untuk mengumpulkan hadits sebanyak mungkin. Maka dikumpulkanlah semua hadits tersebut di Bukhara. Kemudian ia pergi ke balach, dan mempelajari hadits dari ahli-ahli hadits di sana, serta meriwayatkan hadits dari mereka. Sesudah itu ia mengembara ke marwu, naisyabur ar-ray, Baghdad, bashrah, kufah, mekkah, madinah, mesir, damaskus, qaisariah, asqalan, dan hims. Dengan demikian dapatlah ia mengumpulkan hadits-hadits yang tadinya tersebar pada beberapa daerah islam, perjalanan itu dilakukannya selama 16 tahun, dimana ia mengalami penderitaan yang tidak sedikit, yang hanya dapat dipikul oleh orang-orang yang sabar dan tangguh.
 Abu Hanifah an-nu’man telah berkata kepada muridnya, yaitu yusuf  ibnu Khalid as-samti, ketika muridnya itu meminta izin untuk kembali ke kampong halamannya di bashrah : “janganlah kau pulang sebelum aku punya waktu berbicara kepadamu, dan dapat memperingatkan kepadamu hal-hal yang harus kamu perhatikan, sehingga ilmu pengetahuan itu benar benar dapat menjadi perhiasan dirimu, dan tidak menjelekkanmu,dan dapat menjadi alat untuk menarik kasih sayang orang lain kepadamu dan tidak menimbulkan rasa permusuhan mereka terhadapmu.
Setelah itu, Yusuf pun menangguhkan keberangkatannya selama sehari, sehingga abu hanifah mengajaknya berbicara empat mata, dimana ia memberikan pesan-pesannya kepada yusuf sebagai berikut :
“….seakan-akan kulihat engkau pulang, dan sampai kekota bashrah, lalu engkau bersiap melawan orang-orang yang menantangmu, dan engkau merasa dirimu lebih tinggi daripada mereka, dan engkau membangga-banggakan ilmu mu kepada mereka, lalu engkau meninggalkan mereka, dan mereka pun meninggalkan engkau”
As samti menjawab : “memang, hamper saja aku berbuat seperti itu”.
Maka berkatalah abu hanifah : “apabila nanti engkau sampai di bashrah, orang-orang akan menyambutmu dan mengunjungimu, dan mereka mengetahui apa-apa yang menjadi hakmu, maka tempatkanlah tiap orang dari mereka secara wajar. Hormatilah orang-orang yang memiliki kemuliaan, dan muliakanlah orang-orang yang berilmu, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang yang lebih tua, dan lemah lembutlah dengan yang muda. Dekatkanlah dirimu kepada masyarakat umum, dan ramahlah terhadap pedagang, dan bersahabatlah dengan orang-orang baik,dan janganlah menganggap remeh kepada penguasa. Janganlah engkau mengucapkan kata-kata yang secara lahiriah tidak dibenarkan orang lain, dan janganlah mengabulkan suatu undangan dan jangan menerima suatu hadiah, dan janganlah kamu hemat dan pelit terhadap makanan, sebab belum pernah orang pelit menjadi orang yang terkemuka. Dan kunjungilah orang yang selalu mengunjungimu atau orang yang tidak pernah mengunjungimu, dan berbuat baiklah kepada orang yang telah berbuat baik kepadamu maupun orang yang telah berbuat jahat kepadamu.berilah maaf dan suruhlah orang untuk berbuat baik. Jenguklah orang yang sakit, dan kirimlah seseorang untuk menghuburnya. Tanyakanlah kabar orang-orang yang jauh darimu, janganlah engkau menjauhi orang yang menjauhimu. Dan muliakanlah orang-orang yang datang kepadamu, dan berilah maaf orang-orang yang telah berbuat salah kepadamu. Gembirakanlah orang-orang yang bersedih hati, dan berilah ucapan selamat kepada yang bergembira. Dan tolonglah orang yang pernah menolongmu. Apabila kamu menhadiri majelis ilmu, dan orang-orang membicarakan suatu masalah, sedang pendapat mereka berlainan dengan pendapatmu,maka janganlah perlihatkan sikap pertentangan, melainkan apabila orang bertanya kepadamu, maka jawablah dengan jawaban yang sesuai dengan jawaban mereka terlebih dahulu, kemudian katakanlah : “mengenai pendapat itu masih ada pendapat lain”, lalu kemukakanlah pendapatmu dan berilah penjelasan-penjelasan, dan sebutkan dalilnya.sesuai dengan perhatian dan penerimaan merekan terhadap pendapatmu tersebut. Dan jagalah selalu perasaan orang lain, dengan merasa senang bagi orang lain terhadap yang mereka senangi bagi diri mereka sendiri.
Satu lagi ulama yang patut dicontoh, yaitu adalah ibnu hajar asqalani. Pada usia lima tahun Ibnu Hajar masuk Al-Maktab (semacam TPA sekarang) untuk menghafal Alquran, di sana ada seorang guru yang bernama Syamsuddin bin Al-Alaf yang saat itu menjadi gubernur Mesir dan juga Syamsuddin Al-Athrusy. Akan tetapi, ibnu Hajar belum berhasil menghafal Alquran sampai beliau diajar oleh seorang ahli fakih dan pengajar sejati yaitu Shadruddin Muhammad bin Muhammad bin Abdurrazaq As-Safthi Al Muqri’. Kepada beliau ini lah akhirnya ibnu Hajar dapat mengkhatamkan hafalan Alqurannya ketika berumur sembilan tahun.
Ketika Ibnu Hajar berumur 12 tahun ia ditunjuk sebagai imam shalat Tarawih di Masjidil Haram pada tahun 785 H. Ketika sang pengasuh berhaji pada tahun 784 H. Ibnu Hajar menyertainya sampai tahun 786 H. hingga kembali bersama Al-Kharubi ke Mesir. Setelah kembali ke Mesir pada tahun 786 H. Ibnu Hajar benAr-benar bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, hingga ia hafal beberapa kitab-kitab induk seperti Al-‘Umdah Al-Ahkaam karya Abdulghani Al-Maqdisi, Al-Alfiyah fi Ulum Al-Hadits karya guru beliau Al-Haafizh Al-Iraqi, Al-Haawi Ash-Shaghi karya Al-Qazwinir, Mukhtashar ibnu Al-Haajib fi Al-Ushul dan Mulhatu Al-I’rob serta yang lainnya
Pertama kali ia diberikan kesenangan meneliti kitab-kitab sejarah (tarikh) lalu banyak hafal nama-nama perawi dan keadaannya. Kemudian meneliti bidang sastra Arab dari tahun 792 H. dan menjadi pakar dalam syair.Kemudian diberi kesenangan menuntut hadits dan dimulai sejak tahun 793 H. namun beliau belum konsentrasi penuh dalam ilmu ini kecuali pada tahun 796 H. Diwaktu itulah beliau konsentrasi penuh untuk mencari hadits dan ilmunya.
Saat ketidakpuasan dengan apa yang didapatkan akhirnya Ibnu Hajar bertemu dengan Al-Hafizh Al-Iraqi yaitu seorang syaikh besar yang terkenal sebagai ahli fikih, orang yang paling tahu tentang madzhab Syafi’i. Disamping itu ia seorang yang sempurna dalam penguasaan tafsir, hadist dan bahasa Arab. Ibnu Hajar menyertai sang guru selama sepuluh tahun. Dan dalam sepuluh tahun ini Ibnu Hajar menyelinginya dengan perjalanan ke Syam dan yang lainnya. Ditangan syaikh inilah Ibnu Hajar berkembang menjadi seorang ulama sejati dan menjadi orang pertama yang diberi izin Al-Iraqi untuk mengajarkan hadits. Sang guru memberikan gelar Ibnu Hajar dengan Al-Hafizh dan sangat dimuliakannya. Adapun setelah sang guru meninggal dia belajar dengan guru kedua yaitu Nuruddin Al-Haitsami, ada juga guru lain beliau yaitu Imam Muhibbuddin Muhammad bin Yahya bin Al-Wahdawaih melihat keseriusan Ibnu Hajar dalam mempelajari hadits, ia memberi saran untuk perlu juga mempelajari fikih karena orang akan membutuhkan ilmu itu dan menurut prediksinya ulama didaerah tersebut akan habis sehingga Ibnu Hajar amat diperlukan
Imam Ibnu Hajar juga melakukan rihlah (perjalanan tholabul ilmi) ke negeri Syam, Hijaz dan Yaman dan ilmunya matang dalam usia muda himgga mayoritas ulama dizaman beliau mengizinkan beliau untuk berfatwa dan mengajar.
Beliau mengajar di Markaz Ilmiah yang banyak diantaranya mengajar tafsir di Al-madrasah Al-Husainiyah dan Al-Manshuriyah, mengajar hadits di Madaaris Al-Babrisiyah, Az-Zainiyah dan Asy-Syaikhuniyah dan lainnya. Membuka majlis Tasmi’ Al-hadits di Al-Mahmudiyah serta mengajarkan fikih di Al-Muayyudiyah dan selainnya.
Beliau juga memegang masyikhakh (semacam kepala para Syeikh) di Al-Madrasah Al-Baibrisiyah dan madrasah lainnya (Lihat Ad-Dhau’ Al-Laami’ 2/39).

XII.          PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN BAGI KAUM WANITA
Kaum wanita pada masa abad pertengahan baik di timur maupun barat hanya memperoleh bagian yang kecil sekali dari bidang pendidikan dan pengajaran. Bahkan kesempatan-kesempatan yang diberikan kepada mereka jauh lebih sedikit dibanding kesempatan yang diberikan kepada kaum pria.
Adapun mengenai anak-anak perempuan dari para pembesar istana dan anak para hakim, dokter dan yang sederajat dengannya. Untuk beberapa waktu lama masih belum bisa memutuskan apakah mereka itu akan diperbolehkan untuk mengikiti pelajaran atau tidak. Kemudian hasil itu ditetapkan bahwan anak-anak perempuan tersebut tidak perlu ikut belajar membaca dan menulis.
Tanpa ragu-ragu dapat dipastikan bahwa pada masa itu para perempuan yang bukan dari kalangan atas belumlah mendapatkan pendidikan yang begitu lumayan. Oleh sebab itu maka jumlah kaum terpelajar dari kalangan wanita adalah sangat rendah. Akan tetapi patutlah kita catat disini bahwa banyak juga diantara para wanita Islam telah berhasil mengatasi kesukaran-kesukaran itu dengan berbagai cara, sehingga akhirnya mereka berhasil juga menperoleh pendidikan yang dapat dikatakan mendalam dan beraneka ragam, dan hal ini tidak pernah dicapai oleh wanita-wanita eropa pada masa itu.
Wanita pada masa itu telah memasuki berbagai macam bidang pendidikan, dan ternyata mereka juga mencapai kesuksesan dalam bidang-bidang tersebut, diantaranya:

Bidang Ilmu-Ilmu Agama
Wanita-wanita Islam telah menunjukkan perhatian yang begitu besar terhadap ilmu-ilmu agama unutk mengetahui ajaran-ajaran yang baru itu dan untuk merasakan nikmatnya meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah. Beberapa tokoh perempuan yang berperan dalam bidang ini ialah
1.      Nasifah binti Al-Hasan ibni Zaid ibni Al-Hasan ibni ‘Aly
2.      Syaikhah Syuhdah (Fachrun Nisa)
3.      Zainab binti Abdurrahman Asy-Sya’ri
4.      ‘Unaidah
Bidang Ilmu Sastra
Buku-buku sastra Arab penuh dengan pembicaraan-pembicaraan tentang para wanita ahli sastra. Balaghah dan Sya’ir mereka merupakan saingan berat kaum pria. Boleh jadi wanita tersebut bahkan lebih unggul dari mereka. Berikut ini tokoh-tokoh wanita dalam bidang ilmu sastra
1.      An-Nadhar ibnul Harits
2.      Istri Al-Farazdaq
3.      Rabi’ah Al-Adawiyyah
4.      Zubaidah ummu Ja’far
5.      Hamdah binti Ziyyad
6.      Mariam binti Ja’qut Al-Anshari
7.      Badaniyah
8.      Hafshah binti Al-Haj Al-Rakuni
Bidang Musik Dan Nyanyi
H.G Farmer mengatakan, kehidupan setiap pribadi orang Arab adalah penuh dengan musik sejak dari buaian sampai keliang lahad. Pada setiap peristiwa yang dilaluinya tentu ada musik yang khusus untuk itu. Buku Al-Aghani adalah merupakan sumber terbaik dalam masalah ini dan ada buku-buku yang lainnya. Dari sumber tersebut dapat dikemukakan sejumlah tokoh wanita dalam bidang ini, antara lain:


1.      Jamilah
2.      Dananier
3.      ‘Ulaiyah binti Al-Mahdi
4.      Mutaiyam Al-Hasyimiyyah
5.      Khadijah



Bidang Ilmu Kedokteran
Dalam hal ini Mughannam pernah berkata “kaum muslimah dimasa lalu telah memegang peranan dalam peperangan-peperangan Islam, sama dengan peranan yang dilakukan oleh wanita-wanita yang ada dalam palamg merah”. Berikut ini adalah tokoh-tokoh wanita yang menonjol dalam bidang kedokteran.
1.      Zaenab, dokter wanita dari Bani Aud
2.      Ummul Hasan binti Al-Qadhi Abi Ja’far at-Thanjaly
3.      Saudara perempuan dari Al-Hafid ibnu Zahr

Partisipasi Wanita-wanita Islam Dalam Beberapa Bidang Pekerjaan lainnya
Wanita-wanita Islam juga telah berpartisipasi dalam berbagai bidang lainnya dikehidupan umat Islam, diantaranya:
1.      Al-Chaizuran telah menduduki suatu jabatan penting dalam melancarkan jalannya pemerintahan. Dia ikut main peran penting dalam bidang politik pada masa pemerintahan suaminya yaitu Khalifah Al-Mahdi
2.      Zubaidah, istri khalifah Ar-Rasyid. Dia juga telah memainkan peran penting dalam bidang politik dengan bijaksana dan penuh kasih sayang. Akan tetapi ia lebih menonjol dalam bidang sosial dibanding bidang politik
3.      Labanah, wanita dari Cordova ini menduduki jabatan yang jarang sekali dipegang oleh kaum wanita dimasa itu. Ia menjadi sekretaris pribadi bagi khalifah Al-Hakam

XIII.                Kehidupan Para Siswa Di Zaman Islam Klasik
            Istilah yang sering digunakan untuk menunjukkan term student (siswa), tilmidz yang berarti murid, thalib yang berarti orang yang menuntut ilmu, pelajar atau siswa. Murid adalah seseorang yang sedang berguru, yag mmperoleh pendidikan dari suatu lembaga pendidikan, diawal perkembangan islam para penuntut ilmu tidak ada perbedaan. Ketika rasulullah masih hidup, semua sahabat diberi kesempatan yang sama untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman tentang ajaran islam dari rasulullah saw, namun dalam kenyataanya, tidak semua sahabat dapat memanfaatkan
kesempatan untuk menimba ilmu dari beliau. Hal ini dikarenakn para sahabat mempunyai pekerjaan dan aktifitas yang berbeda-beda,yaitu :
1.      Pendidikan Di Kuttab
            Para murid mendapatkan keterampilan dasar seperti membaca,dan menuls alquran dan dasar-dasar agama. Pendidikan di kuttab sebelum zaman rasul diikuti oleh orang-orang kaya. Pada masa klasik, tidak ada ketentuan pasti tentang batasan umur orang belajar di kuttab. Bervariasinya umur mereka yang belajar di kuttab,tergantung kesiapan mereka (fisik, mental, dan ekonomi). Menurut mahmud yunus, para murid di kuttab belajar 6 hari dalam semingu (sabtu-kamis), waktu belajar dimulai pada pagi hari dan berakhir setelah shalat ashar.pendidikan di kuttab bukan hanya diikuti oleh laki-laki saja,tapi juga oleh perempuan.para murid juga tidak harus membayar biaya pelajaran, bagi murid yang miskin bisa dengan cuma-cuma. Murid-murid menghabiskan waktu siang mereka bergaul dengan guru dan murid. Murid-murid yang cerdas relative dapat menyelesaikan pelajaran lebih cepat. Ukuran kelulusan seorang murid adalah kemampuan menghafal al-quran. Kuttab pada zama Abbasiyah berubah fungsinya menjadi suatu madrasah.[7]  Dimana pada zaman tersebut madrasah-madrasah yang berdiri  dikenal dengan sebutan Madrasah Nizhamiyah. Hal ini berkaitan dengan pendiri dari madrasah tersebut, yaitu Nizhamul Mulk.
2.      Rumah Arqam Bin Arqam
            Pada masa ini, pengajaran diadakan di rumah arqam bin abi arqam, adapun peerta didiknya berasal dari kalangan keluarga nabi dan sahabat-sahabat yang telah memeluk islam. Suasana pelajaran tenang dan dilakukan sembunyi-sembunyi, tempat belajarnya pun strategis sehingga mudah dijangkau oleh seluruh peserta didik. Dan rumah arqam bin abi arqam juga cukup luas untuk kegiatan pembelajaran,sehingga berjalan konusif dan efektif. Materi yang dipelajari di tempat tersebut adalah studi wahyu dan penguatan aqidah dari peserta didik. Kegiatan pembelajaran di tempat ini dilakukan tidak lebih dari 13 tahun.

3.      Pendidikan Di Suffah
            Pembelajaran di suffah dilakukan di masjid, dalam bentuk halaqah dan biasanya disudut-sudut masjid. Keadaan ini menyebabkan semua kalangan dapat mengikuti kegiatan pembelajaran di suffah, tidak terbatas umur dan tingkat kedudukan. Yang dipelajari oleh murid-murid adalah ilmu agama dan dunia. Ketenangan belajar juga kurang kondusif. Dan peserta didik tidak dipungut biaya.
4.      Rumah Ulama
            Kegiatan pembelajaran dilakukan dirumah ulama, murid yang mengikuti terbatas, yang diplejari oleh murid tak menentu, tergantung keinginan dan keahlian guru. Suasana belajar siswa sering terganggu dengan aktifitas rumah tangga. Untuk belajar di tempat ini, peserta didik tidak dipungut biaya.
5.      Maktab
            Peserta didik yang belajar di maktab terbagi-bagi,berdasarkan jenis maktab yang dikunjungi. Apabila peserta didik belajar di maktab umum, maka yang ikut serta didalamnya adalah setiap orang yang ingin belajar. Di maktab yang bersifat semi umum,hanya dapat di akses oleh orang-orang tertentu yang punya hubungan dengan maktab tersebut. Dan maktab yang bersifat khusus atau maktab pribadi, hanya dapat dikunjungi atas izin pemilik maktab tersebut.
6.      Salon Kesusastraan
            Peserta didik yang dapat mengikuti kegiatan pembelajaran disana adalah dari kalangan istana dan pejabat. Peserta didik dapat belajr dengan tenang karena pembelajaran dilakukan dilingkungan istana. Fasilitas pembelajaran di sediakan oleh istana.
7.      Madrasah
            Peserta yang dapat mengikuti pembelajaran di madrasah terbatas. Di tempat ini, peserta didik dapat menikmati pendidikan dengan kurikulum yang tertata degan baik,kelas yang kondusif, administrasi yang rapi, fasilitas yang memadai, namun kedekatan guru dengan murid tidak terlalu dekat. Peserta didik dilasifikasikan berdasarkan tingkat pendidikan dan umurnya.























BAB III
PENUTUP
1.         Kesimpulan
Islam telah meletakkan kedudukan para penuntut ilmu pengetahuan di derajat yang sangat tinggi. Hal ini dapat diketahui dari sumber-sumber ajaran Islam itu sendiri yaitu Al-Quran dan Hadits yang telah menjelaskan kedudukan orang-orang yang menuntut ilmu. Hal tersebut telah mendorong umat Islam untuk semangat dalam menuntut Ilmu. Hal ini dapat dilihat dari kisah-kisah umat Islam terdahulu yang telah menaruh perhatian dan semangat  yang besar terhadap ilmu pengetahuan.
Dalam menuntut ilmu pengetahuan tentulah sang murid harus mempersiapkan dirinya baik dzohir ataupun bathin dan memperhatikan hal-hal yang dapat mempengaruhi keberhasilannya dalam meraih ilmu. Sejatinya, hal-hal yang berkenaan dengan masalah ini pun telah diatur oleh agama, dan telah banyak ilmuwan Muslim yang telah mencurahkan tenaganya untuk menjelaskan hal-hal yang harus diperhatikan seseorang yang ingin mendapatkan ilmu. Sehingga, usaha mereka dalam menuntut ilmu tidaklah sia-sia dan mampu menjadi ilmuwan Muslim yang dapat mengharumkan Agama Islam itu sendiri.










DAFTAR PUSTAKA

Arif, Asm. 2002. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam : Ciputat Press

As’ad, Aliy .1978. Bimbingan Penuntut Ilmu Pengetahuan (Terjemah Ta’limul Muta’alim) . Kudus: Menara Kudus

Djalil, Aria, dkk. 1998. Pembelajaran Kelas Rangkap, Modul PGSD. Jakarta: Depdiknas

Nata, Abuddin. 2004. Sejarah Peradaban Islam Pada Periode Klasik dan Pertengahan. Jakarta: PT. Raja Grafindo

Roqib, Moh. 2009.  Ilmu Pendidikan Islam: Pengembangan Pendidikan Integrasi di Sekolah, Keluarga dan Masyarakat. Yogyakarta:  LKiS

Syalabi, A. 1973. Sejarah Pendidikan Islam (Penerjemah: Muchtar Yahya). : Bulan Bintang

Ulwan, Abdullah Nashih. Pedoman Pendidikan Anak Dalam Islam (Penerjemah: Saifullah Kamalie & Hery Noer Ali). Semarang: CV Asy-Syifa

Ulwan, Abdullah Nashih. 2007. Pedoman Pendidikan Anak Dalam Islam (Cet. I). Jakarta: Pustaka Amani

Wahab, Rochidin. 2004. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Bandung:  Alfabeta CV

http:www. Google.co.id, Etika Pendidik dalam Pendidikan Islam (Telaah Atas Pemikiran Al Ghazaly), Jumat 21 Oktober 2001, pkl 16.44





[1] www.wikipedia.com
[3] Abdullah Nashih Ulwan, Pendidikan Anak dalam Islam (Cet. I; Jakarta: Pustaka Amani, 2007), hlm. 64.
[4] Asm Arif, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam (Cet. I; Jakarta: Ciputat Press, 2002), hlm. 190
[5] www. Google.co.id, Etika Pendidik dalam Pendidikan Islam (Telaah Atas Pemikiran Al Ghazaly), Jumat 21 Oktober 2001, pkl 16.44
[6] www, google, co, id, Pendidikan Seumur Hidup, Jumat 21 Oktober 2011, pkl 17.12
[7] Mahmud Yunus, Sedjarah Pendidikan Islam, Jakarta : Mutiara 1966, hlm. 47

0 komentar:

Poskan Komentar